Senin, 09 Juli 2012

PENERAPAN KONSEP TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) DI UNIT PENGOLAHAN KELAPA TERPADU "SUN COCO" DESA PETANAHAN


Gagasan pembentukan lembaga kemasyarakatan di tingkat pedesaan telah  tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 1998 tentang Operasional Pos Pelayanan Teknologi Desa ( Posyantekdes ) dan sebagaimana telah diubah dalam Permendagri Nomor 20 Tahun 2010 tentang Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna.



Yang dimaksud Teknologi Tepat Guna (TTG) adalah teknologi yang dibuat oleh dan bagi masyarakat tertentu yang disesuaikan dengan kearifan lokal (lingkungan, sosial ekonomi, budaya dan politik), dalam bentuk sederhana sehinga mudah untuk diterapkan dan menghasilkan nilai tambah serta ramah lingkungan.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, Teknologi Tepat Guna merupakan pemicu pertumbuhan.  Pemanfataan TTG secara optimal oleh masyarakat akan mampu mewujudkan usaha masyarakat yang dapat mengefisienkan biaya produksi, memperbaiki proses mutu produksi, meningkatkan kapasitas, dan nilai tambah produk, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan memberantas kemiskinan.

Dalam usaha mewujudkan pemerataan dan peningkatan pembangunan, pembangunan masyarakat perlu ditingkatkan, sehingga dapat mencapai mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang adil dan sejahtera. Apalagi di era globalisasi ini, masyarakat dituntut memiliki kemampuan untuk memanfaatkan Teknologi Tepat Guna (TTG) secara optimal guna peningkatan daya saing usaha hasil produknya bagi peningkatan kesejahteraannya.

PENERAPAN KONSEP TTG DI BUMDES PETANAHAN


Sebagai suatu lembaga berbasiskan pemberdayaan masyarakat, Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” yang merupakan salah satu unit usaha BUMDes Petanahan, telah banyak menerapkan konsep-konsep TTG. Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Usaha Pengolahan Kelapa Terpadu, bisa dilihat di unit-unit usaha yang dilakukan para petani pengrajin maupun di sentra pengolahan kelapa terpadu “SUN COCO”

Dalam pembuatan nata De coco misalnya, para petani pengrajin di Desa Petanahan (setelah melalui pelatihan TTG pengolahan limbah air kelapa), telah berhasil memanfaatkan limbah air kelapa yang melimpah di desanya menjadi sebuah produk lembaran-lembaran nata yang mempunyai nilai ekonomis serta dapat menambah penghasilan mereka. Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) tersebut, ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat desa Petanahan, bahkan masyarakat desa lain di wilayah kecamatan Petanahan dan sekitarnya berusaha ikut menerapkannya. Tersebarnya konsep TTG dalam pengolahan limbah air kelapa didukung oleh adanya Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” BUMDES Petanahan yang menampung semua hasil produksi nata de coco dan memfasilitasi penerapan konsep TTG tersebut.

Di samping pengolahan limbah air kelapa, penerapan konsep TTG juga bisa dilihat dalam usaha sehari-hari pengrajin dalam membuat VCO (Virgin Coconut Oil). Virgin Coconut Oil, merupakan produk turunan kelapa yang memanfaatkan daging kelapa. Daging kelapa yang biasanya hanya diperuntukkan untuk sayur, dengan sentuhan Teknologi Tepat Guna dimanfaatkan untuk membuat Minyak Murni yang kaya akan asam laurat, dan berkhasiat bagi kesehatan.

VCO ini dibuat hanya dengan mengendapkan santan kelapa, kemudian dipisahkan dari airnya (tingal tersisa santan kental/kani nya). Dan setelah kani dikocok/dimixer kemudian didiamkan ± 12 jam, maka akan terbentuk 3 lapisan yaitu air, blendo dan minyak VCO. Kemudian minyak VCO diambil dan disaring, dan blendo dimasak (menghasilkan blendo, dan minyak klentik)

Dari kegiatan usaha pembuatan VCO ini, para pengrajin menghasilkan 3 produk sekaligus yaitu, minyak VCO, blendo, dan minyak klentik. VCO nya mereka jual ke “SUN COCO”, blendo nya mereka jual ke pasar, dan minyak klentik mereka jual ke pasar atau kadang dikonsumsi sendiri. Di samping itu mereka juga masih mendapatkan penghasilan tambahan dari tempurung kelapa yang dijual ke Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu SUN COCO, untuk diolah menjadi arang tempurung.

Di Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu, dapat juga kita jumpai banyak penerapan konsep Teknologi Tepat Guna, seperti dalam pemanfaatan limbah arang tempurung menjadi Arang Tempurung, Asap Cair, Teer. Dan juga Pembuatan Minyak Goreng Non Kolesterol HCO yang terbuat dari VCO. Di samping itu juga adanya pemanfaatan limbah serabut kelapa menjadi Coco Fiber, Coco dust/Cocopeat, dan Pupuk Organik.

POTENSI PENGEMBANGAN KONSEP PENERAPAN TTG DI MASYARAKAT

Berbagai penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) sebagaimana telah diterapkan di Unit Pengolahan Kelapa Terpadu, merupakan salah satu contoh, bagaimana sebuah sentuhan teknologi yang sederhana mampu mengubah suatu produk menjadi berbagai produk turunan yang bermanfaat bagi masyarakat dan menghasilkan nilai tambah secara ekonomis bagi mereka.

Hal ini tentu merupakan sebuah peluang bagi Pemerintah bagaimana mengupayakan gerakan penguatan dan pengembangan kelembagaan yang dapat memberikan Pelayanan Teknologi Tepat Guna sehingga bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat dipedesaan.

Dan yang tidak kalah penting lagi adalah adanya Komitmen yang kuat dari Para Pemangku kepentingan, pemerintah, akademisi dan pelaku usaha dalam mewujudkan kelembagaan pelayanan teknologi tepat guna yang dapat digunakan (1) sebagai wahana/wadah bagi para pencipta /penemu berbagai alat – alat teknologi tepat guna sederhana yang digunakan , dikembangkan atau dimodifikasi oleh para pelaku usaha dipedesaan, (2) Penemuannya tersebut diketahui oleh para Produsen / Pengembang berbagai alat teknologi tepat guna (3) Berbagai alat tersebut dapat dimanfaatkan oleh para Pengguna/ Pemanfaat teknologi tersebut yaitu para pelaku usaha home industri di daerah – daerah pedesaan guna peningkatan kualitas dan produktifitas produksi usahanya dan (4) terbukanya peluang pemasaran produk pengolahan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dengan adanya gagasan-gagasan pembentukan lembaga pelayanan teknologi tepat guna (yang dirintis oleh adanya Unit Pengolahan Kelapa Terpadu), diharapkan di Kecamatan Petanahan ataupun di Kabupaten Kebumen akan muncul lembaga-lembaga sejenis yang bisa memanfaatkan konsep TTG dalam menghasilkan produk yang memiliki daya saing dan nilai jual tinggi.

Jumat, 06 Juli 2012

POTENSI MINYAK GORENG HCO MENJADI SALAH SATU PRODUK UNGGULAN KABUPATEN KEBUMEN

 



Setelah produk nata de coco olahan/kemas dengan ciri khas Perasa Alami menjadi Produk Unggulan dari Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” BUMDes Petanahan, ada harapan yang cerah dari hasil produksi turunan kelapa lain yang baru-baru ini diproduksi dan launching di pasaran.

Minyak Goreng Non Kolesterol HCO (Healthy Coconut Oil) adalah produk baru dari BUMDes Petanahan, Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “Sun Coco” yang mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Minyak Goreng yang terbuat dari Virgin Coconut Oil ini merupakan hasil sentuhan Teknologi Tepat Guna yang aplikasikan dalam kegiatan UKM.

Sejak Pertama diproduksi hingga berjalan 1 bulan, produk ini laku keras di pasaran karena beberapa faktor antara lain : 1) kesadaran masyarakat akan kebutuhan makanan yang sehat dan aman bagi kesehatan semakin tinggi, 2) keunggulan-keunggulan dari minyak Goreng HCO mempunyai daya tarik tersendiri bagi konsumen pengguna.

Beberapa indikator yang bisa dijadikan alasan mengapa minyak goreng HCO ini memiliki potensi menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kebumen antara lain : 1) Minyak Goreng HCO merupakan produk pertama di kebumen 2) Produksi yang ada berbasiskan pemberdayaan masyarakat (para pengrajin VCO) 3) sejak diluncurkan pertama kali ke pasaran mendapatkan respon yang bagus dari konsumen
Dan yang tidak kalah penting lagi adalah di kalangan masyarakat Petanahan dan sekitarnya  produk ini memiliki peluang pasar yang bagus. Dengan potensi pasar  yang berbasis pada konsumsi lokal yang kuat ini, maka semakin memperkuat pangsa pasar dan menghasilkan ketahanan ekonomi.

Seiring dengan telah menyebarnya produk-produk Unit Pengolahan kelapa Terpadu “Sun Coco”  di pasaran, BUMDes Petanahan tentunya dituntut untuk menyajikan produk yang memenuhi standar mutu dan kelayakan edar. Guna memenuhi tuntutan tersebut, BUMDes Petanahan bermaksud mendaftarkan produk-produknya ke instansi terkait sehingga diharapkan dapat mempermudah perluasan pasar.

Namun demikian tentunya kita semua sadar bahwa BUMDes Petanahan tidaklah akan bisa berkembang dan maju tanpa adanya komitmen yang kuat dari ABGS (Akademisi, Birokrasi, Goverment  serta semua pemangku kepentingan/stake holder). Oleh karena  itu dengan bantuan fasilitasi serta dukungan kepedulian dari Pemerintah, Birokrasi dan para pemangku kepentingan diharapkan akan lebih memperkuat daya saing pasar   minyak Goreng HCO hasil produksi dari BUMDES Petanahan, Unit Pengolahan Kelapa Terpadu Sun COCO.
SELAMAT DATANG DI BLOG DESA PETANAHAN, SELAMAT BERBAGI DAN MENIKMATI TOUR ANDA, SEMOGA BERMANFAAT