Setelah sukses berinovasi produksi olahan kelapa, kini Unit Pengolahan Kelapa Terpadu SUN COCO kembali membuat produk baru yang sudah mulai dirilis ke pasaran. Produk baru tersebut adalah minyak goreng kelapa "VIRGIN"
Sebelumnya, Unit Pengolahan Kelapa Terpadu Sun Coco sudah memproduksi Minyak Goreng Healthy Coconut Oil "SUN COCO" yang berbahan baku minyak VCO. Dan Alhamdulillah produk tersebut mendapat sambutan pasar, meskipun segmen pasarnya khusus.
Minyak Goreng Kelapa Premium "VIRGIN" besutan BUMDes Petanahan ini diluncurkan dengan mempertimbangkan beberapa hal :
1. Sebagai perwujudan misi pemberdayaan masyarakat khususnya pengrajin VCO.
..................... nunggu ada waktu lagi untuk nerusin posting he..he
Blog ini berisi berbagai informasi tentang kegiatan pemerintahan, sosial ekonomi masyarakat desa Petanahan, serta informasi-informasi lain yang bermanfaat.
Sabtu, 16 Maret 2013
Rabu, 19 September 2012
MERAJUT PERAN LINTAS SEKTORAL DALAM KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Kegiatan
Pemberdayaan Masyarakat melalu kegiatan pembinaan dan pengembangan Unit Usaha
Kecil dan Menengah menjadi program
yang ngetrend hampir di semua SKPD
(Satuan Kerja Perangkat Daerah). Namun demikian ada budaya yang kurang sehat yang justru menghambat
tujuan kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut. Budaya yang dimaksud adalah
pola pikir ego sektoral dari
masing-masing SKPD yang ada.
Sudah
menjadi rahasia umum bahwa dalam dinamika kehidupan birokrasi terkadang terjadi
persaingan tidak sehat lintas sektoral, yang berujung pada tidak maksimalnya
pelayanan kepada publik. Dampak dari persaingan tidak sehat ini membuat
masyarakat jadi antipati kepada pemerintah karena ujung-ujungnya masyarakat
jadi korban ketidaksehatan persaingan yang sering ditonjolkan dan dipelihara.
Tidak
jarang kita dengar ungkapan-ungkapan seperti : ini lho binaaan dinas saya, coba kalau tidak ada kami,kalau dinas A
seperti ini tapi kalau kami,atau ungkapan lho itu khan tugas/bagiannya dinas B bukan urusan/bidang garapan kami, dan yang semisalnya sebagai wujud adanya
perasaan paling hebat, paling bisa, dan paling bertanggungjawab. Munculnya
ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan masih kentalnya semangat ego sektoral pada SKPD yang menjadi stake holder (pemangku kepentingan)
kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Sebenarnya
kalau kita sadari sepenuhnya, penyakit dan pola pikir ego sektoral sudah selayaknya kita tinggalkan. Dalam kegiatan
pemberdayaan masyarakat terdapat banyak stakeholder yang terlibat. Dari beberapa pengalaman empiris dapat
ditarik pengalaman bahwa kerjasama antar stakeholder akan menghasilkan kinerja
yang lebih baik untuk pengembangan UKM. Untuk itu, maka program-program yang
menyangkut pengembangan UKM baik yang bersifat technical asistant (TA) maupun
yang non TA harus diupayakan adanya koordinasi antar stakeholder agar optimal
hasilnya.
Implementasi kebijakan dalam rangka strategi pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan UKM tidak bisa secara parsial hanya bidang ekonomi permodalan saja, namun harus berorientasi secara keseluruhan atas kebutuhan UKM baik secara individu maupun kelompok, termasuk mendasarkan pada potensi sumberdaya manusianya.
Implementasi kebijakan dalam rangka strategi pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan UKM tidak bisa secara parsial hanya bidang ekonomi permodalan saja, namun harus berorientasi secara keseluruhan atas kebutuhan UKM baik secara individu maupun kelompok, termasuk mendasarkan pada potensi sumberdaya manusianya.
Dengan
melibatkan secara partisipatif dan lebih bersifat bottom up ternyata pemberdayaan
diri UKM telah berhasil dan pada gilirannya secara intergral mampu memberikan
dampak bagi perkembangan perekonomian yang lebih luas.
Unit Pengolahan Kelapa
Terpadu “SUN COCO” Menjadi Pilot Project Profil UKM Perajut
Ukhuwah Lintas Sektoral
Unit
pengolahan Kelapa terpadu SUN COCO sebagai suatu unit usaha berbasiskan
pemberdayaan masyarakat milik desa Petanahan bisa dijadikan sebagai gambaran
kecil bentuk Unit Usaha yang menyatukan dan melibatkan berbagai sektor dalam
kegiatannya.
Unit
pengolahan Kelapa terpadu SUN COCO merupakan suatu Unit Usaha yang mengolah,
menampung, dan menjual berbagai produk turunan dari buah kelapa yang meliputi :
Nata De Coco, minyak VCO, Minyak goreng HCO, Arang Tempurung, Liquid Smoke (asap cair), Serabut kelapa
(coco fiber), serbuk sabut kelapa (cocodust/cocopeat), pupuk organik.
Sebagai
unit usaha yang mengolah hasil tanaman perkebunan/pertanian maka tidak heran
jika SKPD seperti Dinas Pertanian dan Perikanan (Distanak), Dinas Kehutanan dan
Perkebunen (Dishutbun), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) terlibat di
dalamnya. Berbagai program kerja serta kegiatan yang bersinergi dengan kegiatan
pengolahan kelapa terpadu Sun Coco seringkali diadakan serta difasilitasi oleh
ketiga SKPD tersebut seperti Pelatihan, penyaluran bantuan/sarana prasarana,
dan berbagai pendampingan dan kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan.
Sebagai
lembaga yang berbasiskan pemberdayaan masyarakat Unit Pengolahan Kelapa Terpadu
sun coco mempunyai petani/pengrajin binaan yang menyebar di wilayah desa
Petanahan bahkan melebar ke wilayah-wilayah desa ataupun kecamatan lain. Tidak
heran jika “Sun Coco” sering latah disebut
koperasi sun coco yang disebabkan karena jalinan keterikatan yang baik antara
para pengrajin dengan Pengurus/Unit Usaha Pengolahan Kelapa Terpadu SUN COCO.
Sebagai
wujud kepedulian terhadap keberlangsungan usaha serta dalam rangka
berpartisipasi ikut serta meningkatkan Pendapatan Asli Desa (dengan tanpa
mengesampingkan unsur pemberdayaan masyarakat), Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “Sun
Coco” berdasarkan kesepakatan para pengurus, tokoh masyarakat dan Perangkat
desa, dan BPD disepakati menjadi bagian dari BUMDes Desa Petanahan dan menjadi milik desa Petanahan. Oleh
karenanya tidaklah heran jika SKPD Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa
(BAPERMADES), juga dilibatkan dalam kegiatan usaha pengolahan kelapa terpadu
ini.
Sebagai
Unit Usaha yang menghasilkan berbagai produk-produk yang siap dipasarkan, “SUN
COCO” sangat membutuhkan dukungan dari instansi-instansi yang terkait dengan kegiatan
pengembangan usaha seperti periklanan/pemasaran produk, perijinan serta
pengawasan produk-produk hasil olahan Sun Coco. Oleh karena itu “SUN COCO”
berusaha menggandeng beberapa SKPD seperti : Dinas Perindustrian dan
Perdagangan, Kominfo, Dinas Kesehatan, Dinas Perijinan Terpadu dan sebagainya.
Alhamdulillah usaha tersebut membuahkan harapan yang lebih besar bagi kemajuan
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dipelopori Unit Pengolahan Kelapa Terpadu
“Sun Coco”.
Harapan “SUN
COCO” kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam Unit Pengolahan Kelapa terpadu
benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta meningkatkan pendapatan
asli desa dan bisa menghasilkan berbagai produk-produk unggulan yang bermanfaat
baik bagi desa petanahan maupun Kabupaten KEBUMEN secara umum.
Oleh karena itu marilah kita hilangkan sikap ego
sektoral jika ingin sukses menjalankan amanah negara dalam rangka
mensejahterakan masyarakat. Seluruh sektor dalam sendi-sendi kehidupan yang
merupakan urat nadi rakyat harus berjalan seiring, bersinergi dan saling
bekerjasama. Jangan ada merasa paling hebat, paling bisa, dan paling
bertanggungjawab. Semua hal bisa dikeroyok dengan perpaduan kerjasama antar-sektor dan antar-SKPD (Satuan Kerja
Perangkat Daerah). “Jangan hanya diri kita yang kita urus, kita ajak juga yang
lain, supaya kita bisa saling berintegrasi.”
Semoga
NYIUR TETAP MELAMBAI di Bumi Pertiwi.
Semoga “Sang
Lambang Pramuka” benar-benar bisa dibuktikan manfaatnya yang serba guna.
Dan Semoga
kemajuan menjadi milik kita bersama....................
LET'S HAVE HEALTHY LIVING HABITS WITH "SUN COCO"
It’s time to cook with "SUN COCO" Healhty Cooking Oil (Healthy Coconut Oil)
Manufacturing
Process
SUN COCO Healthy Coconut Oil (HCO) is
made from Virgin Coconut Oil which has been eliminated taste and smell of
coconut, filtered and purified without the high heat, no hydrogenation and no
additional chemicals.
SUN COCO cooking oil is produced by The Integrated Processing Unit “SUN COCO” BUMDes Petanahan, Petanahan village, subdistrict Petanahan of Kebumen, Central Java.
Benefits
of cooking oil "SUN COCO"
Virgin coconut oil (VCO) is known as “Energy
Fat” because it requires fewer calories than other fats or oils which are processed
in the liver, because
VCO is converted directly into
energy.
SUN COCO cooking oil does not cause free radicals and Trans Fatty Acid. Trans fat can lowered the levels of HDL (good) cholesterol and raise the levels of LDL (bad) cholesterol in our body significantly, making blockage and hardening of the arteries.
SUN COCO cooking oil contains medium chain saturated fats (MCT) which is dominated by the lauric acid useful for quick energy, kill viruses, bacteria and protozoa.
Different with cooking oils in general that contain Long Chain Trigleseride
(LCT) and poorly soluble in blood, the
MCT relatively easy
to digest (water soluble) in the body so it is healthy to eat.
Which determines whether
or not a cooking oil for health is the content of Medium Chain Saturated fat.
Long-chain fatty (Long Chain trigliseride /
LCT) requires secretion
of biliary gland to dissolve in the blood while
medium chain (Medium
Chain trigliseride / MCT)
that are classified as saturated fats, can be
digested without the
help of bile.
Therefore SUN COCO Cooking Oil is very healthy for the use of family needs moreover it contains natural antioxidants
The benefits of cooking oil "SUN COCO" as mentioned above are:
• Contains natural antioxidants
• Made from Virgin Coconut oil which processed without heating
• Non-cholesterol
Besides "SUN COCO" Healty Cooking Oil also:
• More economical and delicious
• Safe be used up to 7 times frying
• Safe be used up to 7 times frying
Reservations contact: BUMDES
Petanahan - Integrated Coconut Processing Unit
"SUN COCO"
C.P. : 085291111586 (Setya Widada)
OVERVIEW OF BUMDES PETANAHAN
Background of Establishment
The founding of BUMDes SUN COCO at Petanahan
Village not separated from the Cooperative
of Integrated Coconut Processing
"SUN COCO"
which was formed on June 5, 2010.
As the village concern of sustainability the
Bussiness Unit of Integrated Coconut
Processing SUN COCO; the village government on Friday, March 16,
2012, held meetings,
attended by village officials, BPD, and the entire
board and its board of SUN
COCO Cooperative counselors/advisors with
decision the establishment
of SUN COCO BUMDES through
Perdes No. 1 Year 2012 on the
pretext of securing assets groups into village
assets, simplified management,
contributing to revenue villages (PADes),
and more effective supervision towards
the running business.
Line of
Business
• Integrated Coconut Processing: Nata de Coco, VCO, HCO Cooking Oil, Coco Fiber, Coco Dust / Coco Peat, Charcoal Shell, Liquid Smoke (Liquid Smoke), Organic Fertilizer
• Integrated Coconut Processing: Nata de Coco, VCO, HCO Cooking Oil, Coco Fiber, Coco Dust / Coco Peat, Charcoal Shell, Liquid Smoke (Liquid Smoke), Organic Fertilizer
• Milling: Profit
sharing of Flour-bean Milling Machine Utilization
with milling business community.
Development Plan
In the future, Sun Coco BUMDes expected to become an institution optimize its economic potential sources in the village, such as Market and Village Store, Village Tractor and distributor of the products / craftsmen in Petanahan village to increase revenue villages (PADes).
In the future, Sun Coco BUMDes expected to become an institution optimize its economic potential sources in the village, such as Market and Village Store, Village Tractor and distributor of the products / craftsmen in Petanahan village to increase revenue villages (PADes).
Management:
Commissioner: Head of Village, President Director: Amin Sudasi, SE, Vice President Director: KH Ahmad Mansyur, S.Ag. Manager: Setya Widada, Secretary: Andi D.M. Head of Finance: H. Riyanto, 2. MaftukhinMarketing Agent :
Jakarta : Warkhan
Kalimantan : Hulian Bargo
Semarang : Selvia Dewi
Rembang : M. Noor
Temanggung : Nur Wahyu Eldafita
Denpasar : I Wayan Wardi
Kebumen : Koperasi Kebumen Maju Bersama
Denpasar : I Wayan Wardi
Kebumen : Koperasi Kebumen Maju Bersama
Senin, 09 Juli 2012
PENERAPAN KONSEP TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) DI UNIT PENGOLAHAN KELAPA TERPADU "SUN COCO" DESA PETANAHAN
Gagasan pembentukan lembaga kemasyarakatan di tingkat
pedesaan telah tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri
Nomor 24 Tahun 1998 tentang Operasional Pos Pelayanan Teknologi Desa (
Posyantekdes ) dan sebagaimana telah diubah dalam Permendagri Nomor 20 Tahun
2010 tentang Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna.
Yang dimaksud Teknologi Tepat Guna (TTG) adalah teknologi yang
dibuat oleh dan bagi masyarakat tertentu yang disesuaikan dengan kearifan lokal
(lingkungan, sosial ekonomi, budaya dan politik), dalam bentuk sederhana
sehinga mudah untuk diterapkan dan menghasilkan nilai tambah serta ramah
lingkungan.
Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, Teknologi Tepat Guna merupakan
pemicu pertumbuhan. Pemanfataan TTG secara optimal oleh masyarakat akan
mampu mewujudkan usaha masyarakat yang dapat mengefisienkan biaya produksi,
memperbaiki proses mutu produksi, meningkatkan kapasitas, dan nilai tambah
produk, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, meningkatkan taraf hidup
masyarakat, dan memberantas kemiskinan.
Dalam usaha mewujudkan pemerataan dan peningkatan pembangunan,
pembangunan masyarakat perlu ditingkatkan, sehingga dapat mencapai mutu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang adil dan sejahtera. Apalagi di era
globalisasi ini, masyarakat dituntut memiliki kemampuan untuk memanfaatkan
Teknologi Tepat Guna (TTG) secara optimal guna peningkatan daya saing usaha
hasil produknya bagi peningkatan kesejahteraannya.
Sebagai suatu lembaga berbasiskan pemberdayaan masyarakat, Unit
Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” yang merupakan salah satu unit usaha
BUMDes Petanahan, telah banyak menerapkan konsep-konsep TTG. Penerapan
Teknologi Tepat Guna dalam Usaha Pengolahan Kelapa Terpadu, bisa dilihat di
unit-unit usaha yang dilakukan para petani pengrajin maupun di sentra
pengolahan kelapa terpadu “SUN COCO”
Dalam pembuatan nata De coco misalnya, para petani pengrajin di Desa
Petanahan (setelah melalui pelatihan TTG pengolahan limbah air kelapa), telah
berhasil memanfaatkan limbah air kelapa yang melimpah di desanya menjadi sebuah
produk lembaran-lembaran nata yang mempunyai nilai ekonomis serta dapat
menambah penghasilan mereka. Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) tersebut,
ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat desa Petanahan, bahkan
masyarakat desa lain di wilayah kecamatan Petanahan dan sekitarnya berusaha
ikut menerapkannya. Tersebarnya konsep TTG dalam pengolahan limbah air kelapa
didukung oleh adanya Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” BUMDES Petanahan
yang menampung semua hasil produksi nata de coco dan memfasilitasi penerapan
konsep TTG tersebut.
Di samping pengolahan limbah air kelapa, penerapan konsep TTG juga
bisa dilihat dalam usaha sehari-hari pengrajin dalam membuat VCO (Virgin
Coconut Oil). Virgin Coconut Oil, merupakan produk turunan kelapa yang memanfaatkan
daging kelapa. Daging kelapa yang biasanya hanya diperuntukkan untuk sayur,
dengan sentuhan Teknologi Tepat Guna dimanfaatkan untuk membuat Minyak Murni
yang kaya akan asam laurat, dan berkhasiat bagi kesehatan.
VCO ini dibuat hanya dengan mengendapkan santan kelapa, kemudian
dipisahkan dari airnya (tingal tersisa santan kental/kani nya). Dan
setelah kani dikocok/dimixer kemudian didiamkan ± 12 jam, maka akan
terbentuk 3 lapisan yaitu air, blendo dan minyak VCO. Kemudian minyak VCO
diambil dan disaring, dan blendo dimasak (menghasilkan blendo, dan minyak
klentik)
Dari kegiatan usaha pembuatan VCO ini, para pengrajin menghasilkan 3
produk sekaligus yaitu, minyak VCO, blendo, dan minyak klentik. VCO nya mereka
jual ke “SUN COCO”, blendo nya mereka jual ke pasar, dan minyak klentik mereka
jual ke pasar atau kadang dikonsumsi sendiri. Di samping itu mereka juga masih
mendapatkan penghasilan tambahan dari tempurung kelapa yang dijual ke Sentra
Pengolahan Kelapa Terpadu SUN COCO, untuk diolah menjadi arang tempurung.
Di Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu, dapat juga kita jumpai banyak
penerapan konsep Teknologi Tepat Guna, seperti dalam pemanfaatan limbah arang
tempurung menjadi Arang Tempurung, Asap Cair, Teer. Dan juga Pembuatan Minyak
Goreng Non Kolesterol HCO yang terbuat dari VCO. Di samping itu juga adanya
pemanfaatan limbah serabut kelapa menjadi Coco Fiber, Coco dust/Cocopeat,
dan Pupuk Organik.
POTENSI PENGEMBANGAN KONSEP PENERAPAN TTG DI MASYARAKAT
Berbagai penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) sebagaimana telah diterapkan
di Unit Pengolahan Kelapa Terpadu, merupakan salah satu contoh, bagaimana
sebuah sentuhan teknologi yang sederhana mampu mengubah suatu produk menjadi
berbagai produk turunan yang bermanfaat bagi masyarakat dan menghasilkan nilai
tambah secara ekonomis bagi mereka.
Hal ini tentu merupakan sebuah peluang bagi Pemerintah bagaimana mengupayakan
gerakan penguatan dan pengembangan kelembagaan yang dapat memberikan Pelayanan
Teknologi Tepat Guna sehingga bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat
dipedesaan.
Dan yang tidak kalah penting lagi adalah adanya Komitmen yang kuat
dari Para Pemangku kepentingan, pemerintah, akademisi dan pelaku usaha dalam
mewujudkan kelembagaan pelayanan teknologi tepat guna yang dapat digunakan (1) sebagai wahana/wadah
bagi para pencipta /penemu berbagai alat – alat teknologi tepat guna sederhana
yang digunakan , dikembangkan atau dimodifikasi oleh para pelaku usaha
dipedesaan, (2) Penemuannya tersebut diketahui oleh para Produsen / Pengembang
berbagai alat teknologi tepat guna (3) Berbagai alat tersebut dapat
dimanfaatkan oleh para Pengguna/ Pemanfaat teknologi tersebut yaitu para pelaku
usaha home industri di daerah – daerah pedesaan guna peningkatan kualitas dan
produktifitas produksi usahanya dan (4) terbukanya peluang pemasaran produk
pengolahan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dengan adanya gagasan-gagasan pembentukan lembaga pelayanan
teknologi tepat guna (yang dirintis oleh adanya Unit Pengolahan Kelapa
Terpadu), diharapkan di Kecamatan Petanahan ataupun di Kabupaten Kebumen akan
muncul lembaga-lembaga sejenis yang bisa memanfaatkan konsep TTG dalam
menghasilkan produk yang memiliki daya saing dan nilai jual tinggi.
Jumat, 06 Juli 2012
POTENSI MINYAK GORENG HCO MENJADI SALAH SATU PRODUK UNGGULAN KABUPATEN KEBUMEN
Setelah produk
nata de coco olahan/kemas dengan ciri khas Perasa Alami menjadi Produk Unggulan
dari Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “SUN COCO” BUMDes Petanahan, ada harapan
yang cerah dari hasil produksi turunan kelapa lain yang baru-baru ini diproduksi
dan launching di pasaran.
Minyak
Goreng Non Kolesterol HCO (Healthy Coconut Oil) adalah produk baru dari BUMDes
Petanahan, Unit Pengolahan Kelapa Terpadu “Sun Coco” yang mendapatkan tanggapan
yang baik dari konsumen. Minyak Goreng yang terbuat dari Virgin Coconut Oil ini
merupakan hasil sentuhan Teknologi Tepat Guna yang aplikasikan dalam kegiatan
UKM.
Sejak
Pertama diproduksi hingga berjalan 1 bulan, produk ini laku keras di pasaran
karena beberapa faktor antara lain : 1) kesadaran masyarakat akan kebutuhan
makanan yang sehat dan aman bagi kesehatan semakin tinggi, 2)
keunggulan-keunggulan dari minyak Goreng HCO mempunyai daya tarik tersendiri
bagi konsumen pengguna.
Beberapa
indikator yang bisa dijadikan alasan mengapa minyak goreng HCO ini memiliki
potensi menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kebumen antara lain : 1)
Minyak Goreng HCO merupakan produk pertama di kebumen 2) Produksi yang ada
berbasiskan pemberdayaan masyarakat (para pengrajin VCO) 3) sejak diluncurkan
pertama kali ke pasaran mendapatkan respon yang bagus dari konsumen
Dan yang
tidak kalah penting lagi adalah di kalangan masyarakat Petanahan dan
sekitarnya produk ini memiliki peluang
pasar yang bagus. Dengan potensi pasar yang
berbasis pada konsumsi lokal yang kuat ini, maka semakin memperkuat pangsa
pasar dan menghasilkan ketahanan ekonomi.
Seiring
dengan telah menyebarnya produk-produk Unit Pengolahan kelapa Terpadu “Sun
Coco” di pasaran, BUMDes Petanahan tentunya
dituntut untuk menyajikan produk yang memenuhi standar mutu dan kelayakan edar.
Guna memenuhi tuntutan tersebut, BUMDes Petanahan bermaksud mendaftarkan
produk-produknya ke instansi terkait sehingga diharapkan dapat mempermudah
perluasan pasar.
Namun demikian
tentunya kita semua sadar bahwa BUMDes Petanahan tidaklah akan bisa berkembang
dan maju tanpa adanya komitmen yang kuat dari ABGS (Akademisi, Birokrasi,
Goverment serta semua pemangku
kepentingan/stake holder). Oleh karena itu
dengan bantuan fasilitasi serta dukungan kepedulian dari Pemerintah,
Birokrasi dan para pemangku kepentingan diharapkan akan lebih memperkuat daya
saing pasar minyak Goreng HCO hasil produksi dari BUMDES Petanahan,
Unit Pengolahan Kelapa Terpadu Sun COCO.
Langganan:
Postingan (Atom)
